Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

SUMUTNOMICS.COM | Medan – Harga cabai merah di Sumut kembali menunjukkan pergerakan yang cukup tajam. Di tengah pasokan dari sentra produksi yang mulai terbatas, harga cabai merah di sejumlah wilayah, termasuk Deli Serdang, kembali menembus Rp100.000 per kilogram.
Berdasarkan pantauan di lapangan pada Minggu (4/10), harga cabai merah pada perdagangan subuh berada di kisaran Rp23.000 per seperempat kilogram atau sekitar Rp90.000-Rp92.000 per kg. Namun, memasuki perdagangan tengah hari, harga kembali bergerak naik menjadi sekitar Rp25.000 per seperempat kilogram atau setara Rp100.000 per kg.
Kenaikan harga itu terjadi hanya dalam waktu beberapa jam perdagangan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar cabai merah masih berada dalam situasi yang cukup volatil, terutama karena ketersediaan pasokan belum sepenuhnya mampu mengimbangi permintaan.
Komoditas cabai lain juga masih diperdagangkan pada level yang relatif tinggi. Harga cabai rawit berada di kisaran Rp68.000 per kg, cabai hijau sekitar Rp45.000 per kg, sedangkan cabai caplak ditransaksikan sekitar Rp90.000 per kg.
Padahal dua hari sebelumnya harga cabai merah sempat mengalami penurunan cukup dalam. Ketika itu harga cabai merah di sejumlah pasar di Kota Medan, Deli Serdang dan sekitarnya masih berada di rentang Rp60.000-Rp75.000 per kg.
Pergerakan harga yang kembali menanjak tidak terlepas dari kondisi pasokan di tingkat sentra produksi. Berdasarkan pemantauan di sejumlah titik penghasil cabai di wilayah Deli Serdang, periode panen cabai telah berakhir pada pekan sebelumnya.
Berakhirnya masa panen itu membuat suplai dari daerah produksi lokal menjadi lebih terbatas. Di sisi lain, kebutuhan pasar tetap berjalan sehingga tekanan terhadap harga kembali meningkat.
Harapan pasokan kemudian mengarah ke sentra produksi di wilayah Aceh. Distribusi cabai merah dari Takengon menuju Pasar Induk Lau Cih, Medan, mulai terlihat. Dalam satu malam pengiriman, volume cabai yang masuk bahkan dapat mencapai sekitar delapan ton.
Namun, pasokan itu belum sepenuhnya konsisten. Arus cabai dari Aceh ke Medan masih menghadapi persaingan permintaan dari luar Sumut.
Gunawan Benjamin, Ekonom Sumut dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), mengatakan sejumlah daerah seperti Riau, Kepulauan Riau serta wilayah lain di Sumatra masih berpotensi menyerap pasokan cabai dari Aceh. Dengan demikian, tidak seluruh produksi yang tersedia otomatis mengalir ke pasar Sumut.
“Kondisi ini membuat keseimbangan pasokan dan permintaan cabai merah menjadi semakin dinamis. Ketika pasokan dari sentra produksi tertentu berkurang, sementara permintaan dari berbagai wilayah tetap tinggi, harga di tingkat pasar dapat bergerak dengan cepat,” ungkapnya, di Medan, Minggu (4/10).
Selain faktor pasokan dan permintaan, perkembangan cuaca juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Ketidakpastian kondisi cuaca, termasuk potensi pengaruh El Nino, dapat meningkatkan risiko ketimpangan produksi cabai dalam jangka pendek.
Situasi ini membuat arah harga cabai merah ke depan masih sulit diproyeksikan secara pasti. Pergerakan harga pun diperkirakannya tetap volatil seiring pasar mencari titik keseimbangan baru.
Gunawan memerkirakan gejolak harga cabai merah masih berpeluang berlangsung hingga sekitar satu pekan ke depan. Harga diperkirakan bergerak fluktuatif sebelum menemukan titik keseimbangan baru yang kemungkinan mulai terlihat pada pekan kedua atau menjelang pekan ketiga Oktober.
Dengan kondisi cuaca yang masih menjadi salah satu faktor fundamental produksi, arah harga cabai merah dalam beberapa pekan ke depan masih akan sangat bergantung pada seberapa besar pasokan yang masuk ke pasar.
“Juga bagaimana perkembangan permintaan dari berbagai daerah di Sumatra,” pungkasnya.