Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

SUMUTNOMICS.COM | MEDAN – Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan hebat, menyentuh level Rp17.755 per US Dolar pada perdagangan Rabu (17/6). Pelemahan rupiah terjadi di tengah kecemasan pelaku pasar menanti keputusan lembaga pemeringkat MSCI.
Pelemahan mata uang domestik ini pun merembet ke pasar modal, yang memicu aksi jual pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya ditutup melemah 0,55% ke level 6.220,74.
Pergerakan IHSG ini terpantau anomali karena berbeda arah dengan mayoritas bursa saham di Asia yang cenderung menguat. Indeks sempat mencoba bertahan di zona hijau dengan menguat hingga level 6.377, tetapi tekanan jual pada emiten seperti BMRI, BUMI, AMMN, TPIA dan BBNI membuat IHSG berbalik arah menjelang penutupan.
Analis dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai, tekanan pada rupiah saat ini telah menjadi katalis utama dominasi sentimen negatif di pasar domestik.
“Rupiah yang terperosok ke level Rp17.730 hingga Rp17.755 per US Dolar menciptakan ketidakpastian tinggi. Investor kini sangat berhati-hati, terutama karena pasar sedang menanti dua hal besar, yaitu arah kebijakan moneter The Fed dan keputusan status Indonesia oleh MSCI,” ungkapnya, di Medan.
Gunawan menjelaskan, meski MSCI diproyeksikan akan mempertahankan status Indonesia di kategori emerging market, pasar tetap menunjukkan sikap waspada. Menurutnya, kekhawatiran terhadap potensi penurunan kelas tetap menghantui pelaku pasar.
Jika skenario tersebut terjadi, dampaknya bisa memicu tekanan hebat pada pasar saham. Kemudian merembet pada pelemahan nilai tukar yang lebih dalam akibat aliran modal keluar (capital outflow).
Sentimen pasar juga dipengaruhi oleh pergerakan harga emas dunia yang tercatat melemah tipis ke level US$4.324 per ons troy atau setara Rp2,48 juta per gram. Menurut Gunawan, kebijakan suku bunga acuan The Fed akan menjadi penentu arah pasar dalam jangka pendek.
“Investor saat ini benar-benar fokus pada arah kebijakan moneter global. Sampai ada kejelasan dari The Fed dan kepastian status dari MSCI, volatilitas di pasar keuangan kita masih akan sangat tinggi,” pungkasnya.