Sinyal Inflasi AS-China Berpotensi Menekan Pergerakan IHSG dan Rupiah

SUMUTNOMICS.COM | Medan – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah dibayangi tekanan sentimen global di tengah meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar terhadap perkembangan inflasi Amerika Serikat (AS) dan China. Rilis data inflasi kedua negara itu berpotensi memengaruhi pergerakan pasar keuangan Indonesia.

IHSG ditutup melemah 0,17% ke level 5.925,976 pada perdagangan Selasa (13/10), setelah sempat terpuruk hingga level 5.828. Sejumlah saham berkapitalisasi besar, seperti Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Telkom Indonesia (TLKM), Astra International (ASII), dan Vale Indonesia (INCO), turut memberi tekanan terhadap pergerakan indeks.

Analis Pasar dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai, perkembangan ekonomi global masih menjadi faktor penting yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan domestik. Tekanan terhadap IHSG sejalan dengan pelemahan yang terjadi pada mayoritas bursa saham Asia.

“Selain pasar saham, rupiah juga mengalami tekanan sepanjang perdagangan,” ungkapnya, di Medan, Selasa (13/10).

Mata uang Garuda sempat melemah ke level Rp17.930 per dolar AS sebelum berbalik menguat dan ditutup pada level Rp17.885 per dolar AS. Pergerakan itu didukung oleh tekanan terhadap indeks dollar AS atau US Dollar Index pada sesi perdagangan kedua.

Menurut dia, pelaku pasar cenderung mengambil sikap wait and see menjelang rilis data inflasi AS dan China. Kedua data itu dinilainya penting karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga dan keputusan investasi.

Jika inflasi menunjukkan kenaikan yang lebih tinggi dari perkiraan, maka tekanan terhadap pasar keuangan domestik berpotensi meningkat. Kondisi ini dapat mendorong investor memperhitungkan kemungkinan suku bunga acuan bertahan tinggi atau meningkat dalam waktu dekat.

Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dapat memengaruhi aliran modal, permintaan terhadap aset berisiko serta pergerakan nilai tukar rupiah. Dalam situasi itu IHSG juga berpotensi menghadapi tekanan seiring meningkatnya kehati-hatian investor.

Penurunan harga minyak mentah dunia turut menjadi salah satu perkembangan yang dicermati pelaku pasar di tengah ketidakpastian global. Begitu pula dengan rencana serangan besar AS terhadap Iran dan risiko eskalasi konflik yang berkepanjangan, menambah ketidakpastian terhadap prospek ekonomi global dan pergerakan harga komoditas.

Kondisi itu membuat investor harus mencermati kombinasi risiko geopolitik dan perkembangan data ekonomi dalam menentukan strategi investasi.

Sementara itu, harga emas dunia tercatat melemah sekitar 2,4% ke kisaran US$4.185 per troy ounce, atau setara sekitar Rp2,4 juta per gram berdasarkan angka dalam data perdagangan yang dihimpun.

“Pergerakan harga komoditas tersebut berlangsung ketika investor mencermati perkembangan harga energi dan arah kebijakan ekonomi global,” kata Gunawan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *