
SUMUTNOMICS.COM | MEDAN – Pemerintah diminta tidak terburu-buru menyimpulkan penurunan harga daging ayam dan telur ayam selama libur sekolah semata-mata disebabkan berhentinya sementara operasional dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi tersebut dinilai bisa menjadi sinyal melemahnya daya beli masyarakat.
Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin mengatakan, penurunan harga kedua komoditas itu perlu dicermati lebih dalam karena faktor yang memengaruhinya tidak hanya berasal dari berkurangnya permintaan dapur MBG.
“Penurunan harga daging ayam dan telur ayam bukan hanya dipicu oleh libur anak sekolah yang membuat dapur MBG libur sementara. Pemerintah harus mewaspadai kondisi ini karena bisa mengindikasikan adanya tekanan besar pada daya beli masyarakat,” ungkapnya. Di Medan, Kamis (2/7).
Menurut dia, daging ayam dan telur merupakan komoditas yang permintaannya relatif stabil ketika dapur MBG beroperasi. Berbeda dengan sayuran yang mudah disubstitusi sesuai menu, kedua komoditas tersebut lebih sering menjadi sumber protein utama dalam program tersebut.
Data harga menunjukkan daging ayam di Kota Medan turun dari sekitar Rp43 ribu per kilogram pada Maret menjadi Rp33 ribu per kilogram pada Juni atau sekitar 23,3%. Di salah satu pasar tradisional Kabupaten Deli Serdang, penurunannya mencapai sekitar 16% pada periode yang sama.
Di tingkat produsen, harga ayam hidup juga mengalami tekanan. Dari kisaran Rp21 ribu hingga Rp22 ribu per kilogram pada Mei, harganya sempat turun menjadi Rp16.500 per kilogram pada pekan lalu.
Sementara harga telur ayam di Deli Serdang turun dari sekitar Rp30.600 per kilogram pada Mei menjadi Rp28.300 per kilogram sejak 19 Juni. Menurut Gunawan, pergerakan harga sayuran justru tidak seragam.
Harga wortel naik sekitar 37% dibandingkan Mei dan harga buncis relatif stabil di kisaran Rp13 ribu per kilogram. Sebaliknya, harga kacang panjang, tomat, dan sawi hijau mengalami penurunan karena komoditas tersebut lebih mudah disubstitusi dalam penyusunan menu.
Ia menilai pemerintah perlu terus memantau perkembangan konsumsi rumah tangga selama masa libur sekolah. Menurut dia, apabila pelemahan harga ayam dan telur terus berlangsung setelah dapur MBG kembali beroperasi, kondisi tersebut patut diwaspadai sebagai indikator menurunnya daya beli masyarakat.
“Bukan sekadar dampak berkurangnya aktivitas program MBG,” pungkasnya.
