Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

SUMUTNOMICS.COM | MEDAN – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat tipis 0,04% ke level 6.041,972 pada perdagangan Rabu (15/7). Sepanjang hari, IHSG bergerak di rentang 6.007 hingga 6.081, sempat berpindah zona antara area merah dan hijau sebelum akhirnya ditutup positif.
Penguatan IHSG ditopang oleh sejumlah saham unggulan, di antaranya BMRI, BBRI, ANTM, RANS, dan DEWA. Kondisi ini sejalan dengan pergerakan bursa saham Asia yang mixed, meski mayoritas ditutup di zona hijau.
Sementara itu, nilai tukar rupiah ditutup menguat di level 18.060 per dolar AS. Meski demikian, dibandingkan sesi pembukaan perdagangan, rupiah sempat mengalami tekanan sebelum akhirnya mampu bertahan di zona hijau.
Penguatan indeks dolar AS ke kisaran 100,9 turut menekan mata uang rupiah. Sekaligus menekan sejumlah mata uang Asia lain seperti Yen Jepang, Dolar Hong Kong dan Rupee India.
Analis Pasar Keuangan dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin mengatakan, kinerja pasar keuangan domestik ini cenderung mengabaikan sejumlah sentimen positif yang seharusnya bisa mendongkrak penguatan lebih jauh. Salah satunya adalah afirmasi peringkat positif dari lembaga pemeringkat internasional Standard & Poor’s (S&P) serta data inflasi AS yang melunak.
“Walaupun Rupiah dan IHSG tetap merespons sejumlah sentimen tersebut, pelaku pasar terlihat lebih berhati-hati setelah harga minyak mentah dunia mengalami peningkatan,” kata, di Medan.
Menurut Gunawan, kehati-hatian pelaku pasar dipicu oleh eskalasi konflik antara Iran dan AS. Termasuk ancaman AS untuk kembali melancarkan serangan ke Iran jika Teheran menolak berunding.
Kekhawatiran akan penutupan kembali Selat Hormuz turut memperkuat sentimen negatif di pasar. Sentimen itu memicu kekhawatiran bahwa inflasi akan kembali menjadi ancaman bagi pasar ke depan sehingga sejumlah kabar positif dari dalam negeri jadi terabaikan.
Di sisi lain, harga emas dunia cenderung stabil dan bertahan di kisaran US$4.031 per ons troy, atau sekitar Rp2,35 juta per gram. Menurut Gunawan, harga emas semestinya mendapat momentum positif dari melemahnya data inflasi AS.
Namun kondisi itu tidak serta-merta memerkuat spekulasi penurunan suku bunga acuan bank sentral AS, The Fed. Tensi geopolitik yang memburuk saat ini justru memperkuat pandangan bahwa inflasi tetap menjadi ancaman ke depan.