Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

SUMUTNOMICS.COM | MEDAN – Di sebuah SPBU di pinggiran Kota Medan, antrean sepeda motor tampak mengular hingga ke bahu jalan, Selasa (14/7). Bukan hanya kendaraan bermesin diesel yang mengantre solar, kini pengendara motor yang mencari Pertalite pun harus berjibaku dengan waktu dan kesabaran.
Pemandangan ini menjadi potret baru keseharian masyarakat Sumatra Utara belakangan ini. Bagi Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin, antrean yang tak lazim ini bukan sekadar urusan telat mengisi tangki. Ada “biaya tersembunyi” yang sedang dipertaruhkan oleh masyarakat luas, yakni ancaman inflasi.
“Antrean panjang ini bukan hanya soal ketidaknyamanan, tapi berpeluang menciptakan volatilitas harga di level pedagang yang nantinya akan ditransmisikan ke konsumen,” ujarnya.
Ia menjelaskan, rantai pasok pangan Sumut sangat bergantung pada moda transportasi yang menenggak solar bersubsidi. Ketika para pengemudi truk logistik tersandera antrean di SPBU, waktu distribusi menuju pasar induk menjadi kacau.
Keterlambatan kedatangan truk membuat lelang komoditas di pasar induk tidak berjalan mulus, pasokan menipis dan harga pun terdorong naik.
Tak hanya sektor logistik yang tercekik. Bagi masyarakat awam, kelangkaan Pertalite menciptakan efek domino pada dompet mereka.
Ketika Pertalite ludes, warga dipaksa beralih ke Pertamax yang harganya lebih mahal, atau memilih mengurangi mobilitas yang akhirnya menghambat geliat ekonomi harian.
Di balik fenomena ini, Gunawan melihat adanya jalinan masalah yang lebih kompleks. Ia mengaitkan krisis BBM ini dengan tekanan ekonomi makro.
Mulai dari terbatasnya kemampuan fiskal pemerintah, pelemahan nilai tukar rupiah hingga memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang mengerek harga minyak mentah dunia.
Krisis BBM ini memicu alarm bahwa di setiap antrean panjang, ada risiko harga cabai yang mungkin melonjak esok hari dan ada beban pengeluaran yang makin berat bagi rakyat kecil.
Kini harapan masyarakat tertuju pada kecepatan langkah Pertamina dan pemerintah untuk memulihkan distribusi. Sebelum dampak krisis ini benar-benar merusak stabilitas ekonomi.