Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

SUMUTNOMICS.COM | MEDAN – Sumatra Utara diperkirakan kembali mencatatkan inflasi pada Juli 2026 akibat lonjakan harga sejumlah komoditas pangan utama, khususnya beras. Beras menjadi pendorong utama tekanan inflasi pada bulan ini meski beberapa komoditas hortikultura lain juga mengalami koreksi harga.
Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai lonjakan, harga beras yang berkisar 1,5% hingga 5% di pasaran menjadi motor penggerak utama inflasi Sumut di Juli 2026. Selain beras, sejumlah komoditas pangan lain turut mencatatkan kenaikan.
Di antaranya bawang putih naik sekitar 2,1%, susu bubuk hingga 7%, tomat 10%, wortel 14% serta cabai rawit hijau yang melonjak hingga mencapai 54%.
Komoditas penunjang dapur lain seperti bayam, sawi hijau dan kentang juga terpantau mengalami tren kenaikan harga.
“Sumut berpeluang mencetak inflasi di atas 0,17% pada Juli ini,” ungkap Gunawan, Kamis (30/7).
Gunawan melihat tekanan inflasi pada Juli ini juga merembet ke sektor non-pangan. Sejumlah kebutuhan rumah tangga seperti sampo, pembalut, popok bayi, hingga kebutuhan bahan bangunan seperti besi, semen dan cat tembok turut mengalami kenaikan.
Kendati demikian, harga batu bata terpantau sempat mengalami penurunan dan cenderung lebih murah dibandingkan periode lonjakan serentak sebelumnya. Di sisi lain, beberapa komoditas justru mengalami penurunan harga sepanjang Juli 2026.
Bawang merah turun sekitar 16% dan cabai merah turun sekitar 19%. Khusus untuk cabai merah di pasar modern, harganya terpantau masih mengalami kenaikan akibat faktor manajemen pasokan atau stok yang dikelola oleh pihak ritel modern itu sendiri.
Penurunan harga juga terjadi pada sabun deterjen dan tiket pesawat kelas premium. Sementara tiket pesawat kelas ekonomi justru mencatatkan kenaikan.
Adapun komoditas emas di lapangan terpantau mengalami kenaikan harga sekitar 10%. Sementara itu, komoditas daging dan telur ayam yang sempat dikhawatirkan melonjak akibat musim libur sekolah yang usai dan kembali disalurkannya program Makan Bergizi Gratis (MBG), diproyeksikan belum akan memicu inflasi besar pada Juli ini.
Kenaikan rata-rata harga daging ayam terpelihara di kisaran 1% sehingga dampaknya dinilai sangat kecil terhadap inflasi bulanan. Keduanya diprediksi baru akan menyumbang inflasi yang signifikan pada Agustus mendatang.
Dengan dinamika tersebut Gunawan mengingatkan pemerintah agar mewaspadai tren inflasi hingga penutupan akhir 2026. Proyeksi inflasi ke depan dinilainya akan lebih banyak dipengaruhi oleh faktor cuaca serta dampak pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS.
Adapun komoditas pangan diproyeksikannya masih akan memberi kontribusi dominan terhadap laju inflasi. Dia menambahkan, kenaikan harga pokok produksi (HPP) di tingkat petani saat ini memberi ruang bagi kenaikan harga produk pertanian.
Komponen pembentukan HPP itu telah terkerek naik seiring imbas pelemahan rupiah pasca memanasnya situasi geopolitik global. Kendati demikian, Gunawan mengingatkan adanya ancaman serius jika realisasi harga pangan di tingkat petani ke depan justru berada di bawah harga keekonomian produksi.
Jika hal itu terjadi, dampaknya akan sangat mengancam pengendalian inflasi jangka panjang. Petani terancam gagal modal sehingga kesulitan bercocok tanam kembali, penumpukan utang petani, hingga terjadinya alih fungsi lahan.
“Maka inflasi ke depan akan semakin sulit dikendalikan,” pungkasnya.