Ilustrasi Pasar Saham

Pasar Galau Harga Minyak Dunia Bakal Naik Lagi, IHSG Tersungkur

SUMUTNOMICS.COM | MEDAN – Indeks Harga Saham Gabungan kembali terjerembap ke zona merah pada perdagangan Senin (29/6). Meski sempat dinaungi sejumlah sentimen positif, indeks ditutup melemah 1,28 persen ke level 5.820,790, setelah sebelumnya sempat menyentuh level psikologis 5.800.

Kinerja IHSG ini tergolong anomali. Pasalnya, tekanan jual justru terjadi saat bursa Asia lainnya mayoritas ditutup menguat. Penguatan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level 17.835 per dolar AS pun tak mampu menjadi penyelamat bagi pasar saham domestik.

Sepanjang sesi perdagangan, rupiah memang sempat tampil perkasa di rentang 17.835 hingga 17.865 per dolar AS. Penguatan mata uang Garuda ini dipicu oleh melandainya imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun, serta melemahnya indeks dolar AS (DXY) ke kisaran 101,2.

Namun, realitanya, sentimen positif di pasar mata uang gagal menular ke pasar saham.

Analis dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin menilai, ada kekhawatiran mendalam yang menyelimuti pelaku pasar saat ini, terutama terkait tensi geopolitik di Timur Tengah.

Menurut Gunawan, meski pihak-pihak yang bertikai sempat meneken kesepakatan damai pada akhir pekan lalu, pasar tetap skeptis.

“Perjanjian damai sejauh ini dinilai sangat rapuh dan rentan memicu eskalasi perang yang lebih besar. Ketidakpastian inilah yang menghantui perdagangan dalam jangka pendek,” ungkapnya, di Medan.

Menurut dia, fokus utama investor saat ini tertuju pada pergerakan harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga minyak ke rentang US$70 hingga US$72 per barel akibat memanasnya konflik menjadi sinyal bahaya bagi pasar keuangan global.

“Situasi pasar saat ini masih memungkinkan adanya peluang kenaikan lanjutan harga minyak. Jika itu terjadi, tekanan pada pasar keuangan akan semakin besar, karena inflasi menjadi ancaman nyata yang bisa kembali memicu kebijakan moneter restriktif,” jelasnya.

Di tengah ketidakpastian tersebut komoditas emas dunia justru tampak bergerak mendatar. Emas tercatat melemah tipis ke level US$4.030 per ons troy, atau sekitar Rp2,32 juta per gram.

Gunawan melihat bahwa harga emas saat ini masih dalam fase konsolidasi di kisaran US$4.000 per ons troy. Secara fundamental, emas sebenarnya masih memiliki potensi untuk menguat.

Namun, kenaikan tersebut masih dibayangi oleh potensi lonjakan harga minyak mentah yang bisa menyulut laju inflasi. Rupiah dan IHSG masih sangat rentan mengalami koreksi dalam jangka pendek.

Investor disarankan untuk lebih berhati-hati dan memantau perkembangan geopolitik. Hal itu karena volatilitas pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh sentimen eksternal yang sulit diprediksi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *