Inovasi Limbah Terpadu Medan Tarik Perhatian Thailand dan Malaysia

Sebuah fasilitas pengelolaan limbah terpadu di Sumatera Utara kini menjadi sorotan kawasan. Hari ini, delegasi dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand, yang hadir dalam Pertemuan ke-6 Working Group on Environment (WGE) Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) di Medan, mengunjungi langsung fasilitas PT Sumatera Deli Lestari Indah (PT SDLI) sebagai bagian dari upaya berbagi praktik terbaik pengelolaan limbah di tingkat subregional. Kunjungan ini menjadi momen penting yaitu Indonesia memperlihatkan bahwa model pengelolaan limbah industri yang terintegrasi bukan hanya bisa dibangun, tapi juga bisa direplikasi ke negara-negara tetangga.

Pertemuan WGE IMT-GT berlangsung pada 18–19 Juni 2026 dihadiri delegasi ketiga negara bersama Centre for IMT-GT Subregional Cooperation (CIMT) dan Asian Development Bank (ADB). Fasilitas PT SDLI dipilih karena statusnya sebagai proyek unggulan Joint Business Council Indonesia dalam kerangka kerja sama lingkungan IMT-GT, sebuah model Integrated Waste Management Facility yang dinilai layak menjadi referensi bersama.

“Tantangan lingkungan kini melampaui batas negara, sehingga dibutuhkan koordinasi dan aksi kolektif yang lebih kuat antarnegara IMT-GT, termasuk dalam hal pengelolaan limbah,” ujar Laksmi Widyajayanti, Staf Ahli Menteri Bidang Sumber Daya Pangan, Sumber Daya Alam, Energi, dan Mutu Lingkungan.

Fasilitas yang dikunjungi delegasi bukan sekadar proyek lokal. Selama delapan tahun beroperasi sejak 2018, model pengelolaan limbah ini telah mencatat pertumbuhan volume hingga 71 persen, dengan total limbah yang ditangani mencapai lebih dari 8.700 ton pada 2025, melayani 774 pelanggan aktif yang tersebar di Sumatera Utara dan Aceh. Separuh dari pelanggan tersebut telah terikat dalam perjanjian jangka panjang tiga hingga lima tahun, menghasilkan proyeksi volume terjamin hampir 4.000 ton ke depan, sebuah bukti bahwa model bisnis lingkungan yang berkelanjutan dan terstruktur bukan sekadar wacana.

Yang menjadikan model ini layak dibawa ke meja diskusi regional adalah pendekatannya yang menyeluruh yaitu mulai dari penanganan limbah medis dan industri, kemitraan dengan kawasan ekonomi khusus (KEK), hingga rencana ekspansi ke pulau Jawa pada 2027 dan diversifikasi bisnis lingkungan hingga 2030. Indonesia pun tengah mendorong fasilitas serupa untuk hadir di Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei, Kawasan Industri Kuala Tanjung, dan KEK Arun Lhokseumawe, tiga kawasan strategis yang sedang tumbuh pesat di Sumatera bagian utara dan Aceh.

KLH/BPLH hadir tidak hanya sebagai pemangku kebijakan, tetapi juga sebagai fasilitator yang mendorong model pengelolaan limbah Medan ke panggung regional, memastikan proyek-proyek lingkungan dalam kerangka IMT-GT mendapatkan landasan regulasi yang kuat dan dapat diintegrasikan ke dalam agenda pembangunan berkelanjutan antarnegara. “Dalam konteks IMT-GT, Indonesia menawarkan pengalaman nyata bahwa pengelolaan limbah yang baik bisa dijalankan secara komersial, berskala besar, dan selaras dengan kebutuhan kawasan industri yang terus berkembang,” ujar Laksmi.

Kunjungan lapangan ke Medan ini menjadi penutup simbolis sekaligus substantif dari pertemuan WGE ke-6, bukan sekadar tur, melainkan undangan terbuka kepada Malaysia dan Thailand untuk bersama-sama mengembangkan, mereplikasi, dan menyelesaikan persoalan lingkungan kawasan secara kolektif. Dari Medan, sebuah cetak biru untuk ASEAN mulai ditawarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *