Rebound 1,04% di Akhir Pekan, IHSG Berpeluang Menguat Lagi dan Rupiah Bertahan

Ilustrasi.

SUMUTNOMICS.COM | Medan – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan setelah naik 1,04 persen ke level 6.093,759 pada penutupan perdagangan Jumat (9/10/2026).

Penguatan tersebut terjadi setelah IHSG sempat terkoreksi hingga menembus level psikologis 6.000, tepatnya di kisaran 5.995.

Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah juga berbalik menguat setelah sempat melemah hingga menembus Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah akhirnya ditutup pada posisi Rp17.875 per dolar AS.

Sentimen Regional Dorong Pasar Keuangan

Analis pasar dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menilai perbaikan sentimen pasar keuangan regional turut mendorong penguatan IHSG dan rupiah.

Pelemahan dolar AS terhadap sejumlah mata uang Asia memberikan ruang bagi kedua indikator pasar keuangan domestik tersebut untuk pulih.

“Sejumlah mata uang Asia, seperti baht Thailand, dolar Hong Kong, dan rupee India, turut mencatatkan penguatan terhadap dolar AS,” ungkap Gunawan di Medan, Jumat (9/10).

Sementara itu, indeks dolar AS atau US Dollar Index dan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun relatif stabil pada akhir pekan.

Di sisi lain, harga minyak mentah dunia bergerak turun sepanjang perdagangan. Pada sore hari, harga minyak berada di kisaran 102,8 dollar AS per barel.

Penurunan harga minyak tersebut turut meredakan tekanan terhadap pasar keuangan global. Kondisi ini membuka ruang pemulihan bagi aset berisiko, termasuk saham domestik, meski penguatannya masih berpotensi sementara.

Penjualan Ritel Dukung Sentimen Domestik

Dari dalam negeri, pasar keuangan juga mendapat dukungan dari data penjualan ritel Agustus yang tumbuh 1,3 persen secara tahunan atau year on year (YoY).

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 1,1 persen.

Kenaikan penjualan ritel mengindikasikan perbaikan aktivitas konsumsi domestik. Kondisi ini dapat menjadi salah satu faktor pendukung bagi pergerakan pasar keuangan Indonesia.

Namun, Gunawan menilai arah IHSG dan rupiah selanjutnya masih bergantung pada perkembangan sentimen eksternal.

Pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta harga komoditas global akan menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati investor.

Harga Emas Dunia Menguat

Di tengah penurunan harga minyak mentah, harga emas dunia justru menguat ke level 4.180 dollar AS per ons troi.

Harga tersebut setara sekitar Rp2,4 juta per gram berdasarkan angka dalam laporan.

Pergerakan emas yang berbeda dari minyak menunjukkan dinamika pasar komoditas global pada akhir pekan. Sementara itu, pelaku pasar masih perlu mencermati perkembangan ekonomi global untuk melihat arah pergerakan aset keuangan selanjutnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *