Bank Indonesia Dorong Penguatan Riset Hadapi Fragmentasi Geoekonomi dan Transformasi Digital

Bank Indonesia mendorong penguatan riset berbasis bukti untuk menghadapi fragmentasi geoekonomi, transformasi digital, dan risiko sistemik melalui Konferensi Internasional BMEB ke-20 di Bali.

Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia Destry Damayanti membuka Konferensi BMEB ke-20 di Bali
Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia Destry Damayanti membuka Konferensi Internasional BMEB ke-20 yang membahas tantangan geoekonomi, transformasi digital, dan risiko sistemik. Foto: bi.go.id

SUMUTNOMICS.COM | Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, menegaskan pentingnya transformasi pendekatan kebijakan bank sentral di tengah meningkatnya tantangan global, mulai dari fragmentasi geoekonomi, transformasi digital, hingga risiko sistemik. Menurutnya, kebijakan moneter kini harus terintegrasi dengan kebijakan makroprudensial, sistem pembayaran, pasar keuangan, hingga koordinasi fiskal.

Pernyataan tersebut disampaikan saat membuka Konferensi Internasional Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) ke-20 dan Call for Papers di Bali, Kamis (31/7), yang mengusung tema Central Banking at the Crossroads of Geoeconomic Fragmentation, Digital Transformation, and Systemic Risks.

Destry mengatakan, perubahan lanskap ekonomi dan keuangan global menuntut bank sentral memperkuat riset sebagai dasar penyusunan kebijakan yang adaptif dan berbasis bukti (evidence-based policymaking).

Menurutnya, terdapat empat agenda riset prioritas yang perlu menjadi fokus bank sentral. Pertama, memperkuat pemahaman mengenai transmisi kebijakan moneter di tengah fragmentasi geoekonomi. Kedua, memperdalam kajian mengenai keuangan digital, termasuk perkembangan sistem pembayaran digital, kecerdasan artifisial (AI), teknologi finansial (fintech), aset kripto, hingga mata uang digital.

Ketiga, mengembangkan pengukuran risiko sistemik dan pengawasan makrofinansial yang mampu mengantisipasi risiko siber, perubahan iklim, risiko likuiditas, serta risiko lintas negara. Keempat, memperkuat kredibilitas kelembagaan dan komunikasi kebijakan untuk menjaga kepercayaan publik.

“Bank Indonesia berkomitmen untuk terus memperkuat ekosistem riset yang berkualitas dan relevan bagi kebijakan guna mendukung perumusan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policymaking) di tengah perubahan lanskap ekonomi dan keuangan global,” ujar Destry.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menekankan bahwa ketidakpastian global yang semakin kompleks menuntut koordinasi kebijakan yang lebih erat antarotoritas.

Menurutnya, tantangan menjaga stabilitas nilai tukar, mobilitas arus modal, dan independensi kebijakan moneter tidak dapat dihadapi hanya melalui kebijakan moneter. Diperlukan sinergi dengan kebijakan fiskal, makroprudensial, serta pengelolaan likuiditas agar stabilitas makroekonomi tetap terjaga sekaligus mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi.

Konferensi BMEB juga membahas sejumlah isu strategis, termasuk dampak fragmentasi geoekonomi terhadap perdagangan, investasi, dan kebijakan moneter. Para akademisi menilai penguatan koordinasi kebijakan, analisis berbasis skenario (scenario analysis), serta kerja sama internasional menjadi langkah penting untuk menjaga stabilitas ekonomi global.

Di sektor transformasi digital, pembahasan mencakup perkembangan kecerdasan artifisial (AI), inovasi sistem pembayaran, teknologi keuangan, hingga berbagai model uang digital seperti stablecoins, tokenized deposits, dan wholesale central bank digital currencies (CBDC). Para peserta juga menekankan pentingnya membangun ekosistem keuangan digital yang efisien, saling terhubung (interoperable), dan tangguh (resilient).

Konferensi internasional BMEB diikuti peneliti, akademisi, pembuat kebijakan, dan perwakilan lembaga internasional dari berbagai negara. Pada penyelenggaraan tahun ini, Call for Papers BMEB berhasil menghimpun 354 naskah ilmiah dari 34 negara, memperkuat kolaborasi global dalam menghasilkan rekomendasi kebijakan yang relevan untuk menghadapi dinamika ekonomi dan keuangan dunia.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *