Indonesia Percepat Ekosistem Hidrogen, Bus H2 DDF dan Green Hydrogen Corridor Diluncurkan

Peluncuran Bus H2 DDF pada GHES 2026 di Jakarta. Foto: esdm.go.id
Menteri ESDM bersama para pemangku kepentingan meluncurkan Bus Hidrogen Diesel Dual Fuel (H2 DDF) dalam Global Hydrogen Ecosystem Summit 2026 di Jakarta. Foto: esdm.go.id

SUMUTNOMICS.COM – Pemerintah terus mempercepat pengembangan ekosistem hidrogen nasional melalui peluncuran Pilot Bus Hidrogen Diesel Dual Fuel (H2 DDF) serta Green Hydrogen Corridor sepanjang 194 kilometer yang menghubungkan Jakarta, Karawang, dan Patimban.

Kedua inisiatif tersebut diperkenalkan pada Global Hydrogen Ecosystem Summit (GHES) 2026 yang berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC), sebagai bagian dari upaya mempercepat hilirisasi energi bersih dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pengembangan hidrogen sejalan dengan agenda pemerintah dalam memperkuat swasembada energi, hilirisasi, dan industrialisasi nasional.

Menurut Bahlil, pembangunan ekosistem hidrogen yang terintegrasi mampu menciptakan nilai tambah di dalam negeri melalui peningkatan investasi, penguatan industri, penciptaan lapangan kerja, serta pengembangan teknologi energi bersih.

Meski biaya produksi hidrogen masih relatif tinggi dibandingkan bahan bakar konvensional, pemerintah optimistis perkembangan teknologi akan meningkatkan daya saing hidrogen dalam beberapa tahun ke depan.

Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengungkapkan hingga saat ini terdapat 93 proyek pengembangan ekosistem hidrogen di Indonesia dengan total investasi mencapai Rp32 triliun.

Selain itu, pemerintah juga mengembangkan proyek hidrogen untuk program dedieselisasi di Sumba dan Pulau Rote guna menekan biaya produksi listrik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

Salah satu implementasi nyata pengembangan hidrogen ialah Bus H2 DDF yang dikembangkan melalui kolaborasi Kementerian ESDM, PT PLN (Persero), Perum DAMRI, PT SUCOFINDO (Persero), dan PT Tritunggal Prakarsa Global.

Bus tersebut merupakan armada diesel yang dimodifikasi agar mampu menggunakan campuran solar dan gas hidrogen. Berdasarkan hasil pengujian PT SUCOFINDO, teknologi ini mampu menurunkan emisi opasitas hingga 57,66 persen, karbon monoksida 45,45 persen, karbon dioksida 39,37 persen, dan nitrogen oksida 21,16 persen.

Pengembangan Bus H2 DDF diharapkan menjadi model awal implementasi transportasi rendah emisi sekaligus mendukung target dekarbonisasi sektor transportasi dan penguatan ekosistem hidrogen nasional.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *