Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124

SUMUTNOMICS.COM | MEDAN – Meredanya ketegangan geopolitik setelah tercapainya kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat mulai menekan harga sejumlah komoditas global. Penurunan paling terasa terjadi pada minyak mentah dunia, yang kemudian menyeret pelemahan harga komoditas unggulan Sumatera Utara, yakni minyak sawit mentah (CPO) dan karet.
Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) kini bergerak di kisaran US$70 per barel, sedangkan Brent berada di level sekitar US$73 per barel. Pelemahan harga energi itu langsung diikuti koreksi harga komoditas perkebunan.
Ekonom Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) Gunawan Benjamin mengatakan, harga CPO dunia pada 22 Juni 2026 masih berada di level 4.667 ringgit per ton. Namun dalam sepekan terakhir, harganya turun menjadi sekitar 4.557 ringgit per ton atau terkoreksi sekitar 2,4 persen.
“Kalau dibandingkan dengan level tertingginya sepanjang 2026, harga CPO sudah melemah sekitar 5,9 persen dari posisi 4.841 ringgit per ton,” kata Gunawan, di Medan, Jumat (26/).
Tekanan serupa juga terjadi pada komoditas karet. Harga karet yang pada 22 Juni diperdagangkan di level US$2,28 per kilogram kini turun menjadi sekitar US$2,24 per kilogram atau terkoreksi 1,8%.
Bahkan, harga karet saat ini telah turun sekitar 4,3% dibandingkan posisi tertingginya tahun ini yang sempat menyentuh US$2,34 per kilogram.
Menurut Gunawan, pelemahan dua komoditas andalan Sumut tersebut berpotensi menekan harga tandan buah segar (TBS) sawit dan karet di tingkat petani.
“Ketika tensi geopolitik mereda dan harga komoditas global turun, tekanan ke harga di tingkat petani hampir tidak terhindarkan,” ujarnya.
Namun, pelemahan nilai tukar rupiah yang kini berada di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.000 per dolar AS menjadi bantalan yang menahan dampak penurunan harga komoditas global.
Meski demikian, Gunawan memperkirakan prospek sawit masih relatif lebih baik dibandingkan karet. Permintaan global terhadap CPO diperkirakan tetap terjaga, bahkan berpotensi meningkat apabila pemerintah merealisasikan kebijakan biodiesel B50 yang dijadwalkan mulai berlaku pada Juli mendatang.
Sebaliknya, komoditas karet diproyeksikan masih menghadapi tekanan yang cukup besar dan pergerakannya akan sangat bergantung pada dinamika ekonomi serta politik global.
“Untuk karet, ruang pemulihannya masih terbatas dan sangat dipengaruhi perkembangan global. Sementara sawit masih memiliki katalis positif dari kebijakan domestik,” kata Gunawan.